MATERI : PENGAWETAN PANGAN BAGIAN 1

 

Materi : Teknik Pengawetan Pangan





Sejak manusia dapat berbudidaya pangan nabati dan hewani hasil produksi panen berlimpah.


Namun, daya tahan bahan pangan nabati dan hewani tidak dapat bertahan lama karena tidak memiliki daya simpan yang lama. Maka sejak saat itu manusia mencari solusi pengawetan bahan pangan agar dapat dikonsumsi kapan saja dan dimana saja, namun bahan pangan tetap aman dan bergizi untuk dikonsumsi. Manfaat lain dari pengawetan pangan adalah dapat membuat racun-racun alami yang tidak dikehendaki pada bahan pangan dinetralkan atau dihilangkan dari bahan pangan tersebut. Selain itu, tujuan penggunaan pengawet dalam produk pangan pada praktiknya berperan sebagai antimikroba atau antioksidan yang berfungsi mencegah makanan menjadi tengik, pencoklatan, dan perkembangan noda hitam yang disebabkan oleh perubahan kimiawi dalam makanan tersebut, namun penggunaannya harus tetap di batasi.
Menurut prosesnya teknik pengawetan pangan dapat dibagi menjadi 3 metode, yaitu: pengawetan
fisik, biologis, dan kimiawi.

1. Pengawetan Secara Fisik

Pengawetan secara fisik merupakan proses pengawetan secara alami, yang meliputi pengawetan dengan suhu rendah (pendinginan), pengawetan dengan suhu tinggi (pemanasan), dan pengeringan.

a. Pengawetan dengan Suhu Rendah

Sistem pengawetan dengan suhu rendah adalah memasukkan bahan pangan pada lemari pendingin. Dalam praktiknya, proses pengawetan dengan suhu rendah ini dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu: pendinginan (cooling) dengan suhu antara -20 C sampai +10 0 C dan pembekuan (freezing) dengan suhu antara -120 C sampai -240 C. Sedangkan pembekuan cepat (quick freezing) dilakukan pada suhu -240 C sampai -400C. Buah-buahan dan sayuran disimpan dalam pendinginan (cooling) jika penyimpanan

dilakukan di tempat yang terlalu dingin maka akan mengalami kerusakan yang sering disebut chilling injury. Sedangkan daging, ayam, ikan biasanya disimpan pada tempat pembekuan (freezing). Pada pendinginan dapat mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau minggu. Pada pembekuan dapat mengawetkan bahan pangan untuk beberapa bulan atau kadang beberapa tahun.

Prinsip pengawetan dengan pendinginan atau suhu rendah ditujukan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dan tidak dapat membunuh bakteri, namun hanya menghambat aktivitasnya saja. Setelah bahan pangan dikeluarkan dari lemari pendingin, maka mikroorganisme dapat aktif kembali.

b. Pengawetan dengan Suhu Tinggi

Pengawetan dengan suhu tinggi dengan cara dipanaskan seringkali kamu gunakan dalam memasak, misalnya merebus atau menggoreng suatu bahan makanan. Sebenarnya kamu sedang melakukan proses pengawetan dengan suhu tinggi. Tetapi seringkali kita tidak mengetahui batasan pemanasan yang dilakukan terhadap makanan. Jika pemanasannya tidak tepat, maka akan banyak nilai gizi yang hilang dari makanan yang dimasak tersebut. Pemanasan yang baik adalah secukupnya, agar nilai gizi yang
hilang tidak terlalu banyak.

Dua faktor yang harus diperhatikan dalam pengawetan dengan suhu tinggi atau panas, sebagai berikut.
• Jumlah panas yang diberikan harus cukup untuk mematikan mikroba pembusuk dan mikroba pathogen.
• Jumlah panas yang digunakan tidak boleh menyebabkan penurunan gizi dan cita rasa makanan.
Jumlah panas yang diberikan dalam proses pengolahan pangan tidak boleh lebih dari jumlah minimal panas yang dibutuhkan untuk membunuh mikroba yang dimaksud.



Dalam proses pemanasan, ada hubungan antara panas dan waktu, yaitu jika suhu yang digunakan rendah, maka waktu pemanasan harus lebih lama. Jika suhu tinggi, waktu pemanasan singkat. Berdasarkan penggunaan suhu, waktu dan tujuan pemanasan, proses pemanasan dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu proses pasteurisasi dan sterilisasi.

1) Sterilisasi


Sterilisasi berarti membebaskan bahan dari semua mikroba, karena beberapa spora bakteri relatif lebih tahan terhadap panas. Maka sterilisasi biasanya dilakukan pada suhu yang tinggi misalnya 1210 C (2500 F) selama 15 menit.
Pada makanan dikenal istilah sterilisasi komersial. Sterilisasi komersial adalah sterilisasi yang biasanya dilakukan terhadap sebagian besar pangan di dalam kaleng atau botol. Makanan yang steril secara komersial berarti semua mikroba penyebab penyakit dan pembentuk racun (toksin) dalam makanan tersebut telah dimatikan, demikian juga semua mikroba pembusuk. Dengan demikian, produk pangan yang telah mengalami sterilisasi akan mempunyai daya awet yang tinggi; beberapa bulan sampai beberapa tahun.

Pengalengan/pembotolan adalah sebagai suatu cara pengawetan bahan pangan yang dipak secara hermetis (kedap terhadap udara, air, mikroba, dan benda asing lainnya) dalam suatu wadah, yang kemudian disterilkan secara komersial untuk membunuh semua mikroba patogen (penyebab penyakit) dan pembusuk. Pengalengan secara hermetis memungkinkan makanan dapat terhindar dan kebusukan, perubahan kadar air, kerusakan akibat oksidasi, atau perubahan cita rasa.

2) Pasteurisasi


Pasteurisasi adalah suatu proses pemanasan bahan pangan pada suhu di bawah titik didih air (di bawah 1000 C) dengan tujuan untuk mengurangi populasi mikroorganisme pembusuk sehingga bahan pangan yang dipasteurisasi tersebut akan mempunyai daya awet beberapa hari (misalnya produk susu pasteurisasi) sampai beberapa bulan (misalnya produk sari buah pateurisasi). Walaupun proses ini hanya mampu membunuh sebagian populasi mikroorganisme, namun pasteurisasi ini sering diaplikasikan terutama jika dikhawatirkan bahwa penggunaan panas yang lebih tinggi akan menyebabkan terjadinya kerusakan mutu (misalnya pada susu). Tujuan utama proses pemanasan hanyalah untuk membunuh mikro-organisme pathogen (penyebab penyakit; misalnya pada susu) atau inaktivasi (menghentikan aktivitas) enzim-enzim yang dapat merusak mutu (misalnya pada sari buah). 

Makanan yang dipasteurisasi tidak dapat menyebabkan penyakit tetapi mempunyai masa simpan yang terbatas disebabkan mikroba nonpatogen dan pembusuk masih ada dan dapat berkembang biak. Oleh karena itu pasteurisasi biasanya disertai dengan cara pengawetan lain, misalnya makanan yang dipasteurisasi kemudian disimpan dengan cara pendinginan (di dalam lemari pendingin).

3) Blanching


Blanching adalah pemanasan pendahuluan yang biasanya dilakukan terhadap buahbuahan dan sayur-sayuran untuk menonaktifkan enzim-enzim di dalam bahan pangan tersebut, di antaranya adalah enzim katalase dan peroksidase yang merupakan enzim-enzim yang paling tahan panas di dalam sayursayuran. Blanching selalu dilakukan jika bahan pangan akan dibekukan karena pembekuan tidak dapat menghambat keaktifan enzim dengan sempurna. Bergantung pada panas yang diberikan, blanching juga dapat mematikan beberapa mikroba. Blanching biasanya dilakukan pada suhu <100 oC selama beberapa menit dengan cara perebusan dan pengukusan. 

c. Pengawetan dengan Pengeringan

Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Biasanya kandungan air bahan tersebut dikurangi sampai suatu batas agar mikroba tidak dapat tumbuh lagi di dalamnya. Keuntungan produk hasil pengeringan adalah awet, lebih ringan, volume lebih kecil sehingga memudahkan penyimpanan dan transportasi, serta menimbulkan citarasa khas. Selain itu, banyak bahan yang hanya dapat digunakan apabila telah dikeringkan, misalnya tembakau, kopi, teh, biji- bijian, dan lain-lainnya. Pengeringan dapat berlangsung dengan baik jika pemanasan secara merata, dan uap air dikeluarkan dari seluruh permukaan bahan tersebut. 

Faktor-faktor yang memengaruhi pengeringan terutama adalah luas permukaan bahan, suhu pengeringan, aliran udara, dan tekanan uap di udara. Pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan suatu alat pengering (articial drier), atau dengan penjemuran (sun drying), yaitu pengeringan dengan menggunakan energi langsung dari sinar matahari. Misalnya kerupuk opak dan emping. Pengeringan buatan (articial drying) mempunyai keuntungan karena suhu dan aliran udara dapat diatur sehingga waktu pengeringan dapat ditentukan dengan tepat dan kebersihan dapat diawasi sebaik-baiknya. Penjemuran mempunyai keuntungan karena energi panas yang digunakan murah dan bersifat murah serta melimpah, tetapi kerugiannya adalah jumlah panas sinar matahari yang tidak tetap sepanjang hari, dan kenaikan suhu tidak dapat diatur sehingga waktu penjemuran sukar untuk ditentukan dengan tepat. Selain itu, karena penjemuran dilakukan di tempat terbuka yang langsung berhubungan dengan sinar matahari, kebersihannya harus diawasi dengan sungguh-sungguh. Kadar air suatu bahan yang dikeringkan memengaruhi seberapa jauh penguapan dapat berlangsung, lamanya proses pengeringan dan jalannya proses pengeringan

Materi : Karakteristik Bahan Pangan Nabati dan Hewani Ditinjau dari Sifat dan Pemanfaatan Bahan

 




Pangan merupakan segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati (organik), air, dan bahan tambahan makanan (non organik). Secara garis besar, bahan pangan dari sumber hayati dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu bahan pangan nabati dan bahan pangan hewani. 

Bahan pangan nabati adalah bahan makanan yang berasal dari tanaman bisa berupa akar, batang, dahan, daun, bunga, buah atau beberapa bagian dari tanaman bahkan keseluruhannya atau bahan makanan yang diolah dari bahan dasar dari tanaman. 

Bahan pangan hewani merupakan bahan-bahan makanan yang berasal dari hewan atau olahan yang bahan dasarnya dari hasil hewan.
 
1. Bahan Pangan Nabati :

Berdasarkan tekstur fisik dari bahan nabati maka dapat dikelompokkan menjadi 5 yaitu:
a. Bertekstur Lunak. Contoh bahan nabati bertekstur lunak yaitu papaya, jeruk, rambutan, kelengkeng dan sayuran
b. Bertekstur keras. Contoh bahan nabati bertekstur keras yaitu apel, salak, pir, singkong, berbagai umbi-umbian, dan bahan nabati dari batang.
c. Bertekstur ulet. Contoh berbagai bahan pangan nabati yang berasal dari batang atau akar seperti akar teratai yang mengandung serat kasar.
d. Bertekstur rapuh. Contoh bahan pangan nabati bertekstur rapuh yaitu gaplek, jagung pilpilan, dan berbagai bahan baku olahan yang sudah dikeringkan.
e. Bertekstur kenyal, lentur dan elastic. Contoh jenis buah-buahan tertentu.

Berdasarkan tekstur warna (pigmen). 
Bahan pangan nabati dibedakan atas tujuh kandungan pigmen warna, yaitu antosianin (jingga, merah, dan biru); flavonoid, antoxantin (tidak berwarna, kuning); leukoantosianin (tidak berwarna); tannin (tidak berwarna, kuning); betalain (kuning, merah); kuinon (kuning sampai hitam); xanton (kuning); klorofil (hijau dan coklat); karotenoid (tidak berwarna, kuning, dan merah).

Berdasarkan rasa, bahan pangan nabati dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Rasa manis. Contoh bahan pangan nabati dengan rasa manis yaitu papaya, kelengkeng, rambutan, leci, cerry, dan pir.
b. Rasa asam. Contoh bahan pangan nabati dengan rasa asam yaitu jeruk, markisa, kedondong dan asam jawa.
c. Rasa pahit. Contoh bahan pangan nabati dengan rasa pahit yaitu pare, daun papaya, bangsa temu-temuan, sawi pahit.

2. Bahan Pangan Hewani :
Berdasarkan tekstur fisik dari bahan pangan hewani, memiliki sifat antara lain:
a. Mudah rusak dan tidak mempunyai daya tahan atau daya simpan yang lama, terutama jika bahan pangan hewani tersebut dalam keadaan segar. Hal ini disebabkan oleh tingginya kandungan air dan sifat-sifat komponen penyusum lainnya yang merupakan komponen potensial untuk pertumbuhan mikroba. Hanya telur, bahan pangan hewani yang mempunyai daya tahan agak tinggi, karena kulit telur melindungi bagian dalamnya. Sedangkan bahan pangan hasil nabati umumnya berdaya tahan lebih tinggi.
b. Memiliki sifat lunak, tidak tahan terhadap tekanan dan hantaman.
c. Memiliki sifat yang sangat spesifik dan sangat sukar digeneralisasikan. Sifat-sifat daging sangat berbeda dengan sifat susu, telur maupun ikan. Sedangkan bahan pangan nabati memiliki kesamaan dalam hal jaringan atau komponen penyusunnya.
d. Merupakan sumber protein dan lemak. Sedangkan bahan pangan nabati sebagian
besar merupakan sumber karbohidrat, vitamin, mineral dan protein.

Pemanfaatan
1. Bahan Pangan Nabati :
Berdasarkan pemanfaatannya bahan pangan nabati berguna untuk:
a. menambah variasi pada makanan dan memberikan mineral (B1, Ca dan Fe) dan vitamin (A dan C).
b. dikonsumsi sebagai pencuci mulut karena mengandung vitamin C, pro vitamin A, vitamin B1 dan mineral seperti Ca dan FE.
c. Sebagai makanan pokok manusia, misalnya gandum, jagung, padi, barley, oat dan rye.

2. Bahan Pangan Hewani :
Berdasarkan pemanfaatannya bahan pangan hewani dapat dimanfaatkan sebagai berikut:
a. Menghasilkan daging dan karkas, seperti sapi, kerbau, dan kambing. Karkas adalah daging yang belum dipisahkan dari tulang kerangkanya. Pemotongan karkas menghasilkan bagian-bagian daging yang berbeda mutunya, yang mana menimbulkan perbedaan harga dan cara pengolahannya.

b. Daging unggas juga penghasil daging, seperti ayam kampong dan ayam ras. Daging unggas merupakan bahan pangan yang baik, karena serat-seratnya pendek dan lunak
dan memiliki struktur otot daging yang serupa dengan hewan mamalia. Itik penghasil
daging adalah itik manila dan belibis. Karkas pada unggas meliputi otot, lemak, tulang
dan kulit.

c. Daging ikan bersumber dari ikan laut, ikan darat dan ikan migrasi yang berdasarkan komposisinya disusun atas daging merah dan daging putih. Komposisi kimia daging tergantung pada jenis atau species, umur, jenis kelamin, musim, daerah kehidupan, dan  jenis makanan. Pengetahuan sifat dan pemanfaatan bahan pangan nabati dan hewani sebagai dasar untuk melakukan proses pengolahan agar tepat dan sesuai.


Sumber : Kemdikbud, 2020

TUGAS 
SILAHKAN UNTUK DICERMATI DAN DIPAHAMI ! 


Lembar Kerja 1.1.

Jawablah pertanyaan berikut:

1. Lingkup diversifikasi pangan ada tiga. Apa perbedaan dari setiap lingkup diversifikasi pangan?
2. Jelaskan pengaruh diversifikasi pangan terhadap kebutuhan pangan di Indonesia, menurut pemahamanmu.
3. Datalah potensi lokal disekitarmu! Caranya dengan mengamati lingkunganmu (sawah, ladang, pasar, warung, atau supermarket), apa potensi lokal hasil pertanian daerah setempat dan hasil tersebut diolah menjadi diversifikasi pangan apa saja? Datalah sebanyak mungkin (minimal 10 data, dengan rincian 5 data diversifikasi pangan nabati dan 5 data diversifikasi pangan hewani).
  BUATLAH TABEL

Buatlah tabel dengan format : 
 Nomor, Bahan Dasar, dan Diverisifikasi Pangan 
Contoh:


  

Catatan :
Tugas dikumpulkan di Google Classroom, silahkan diberikan waktu sampai tanggal 24 Januari 2021 Pukul 23:00 WIB. Apabila ada yang belum jelas atau terkendala sesuatu silahkan komunikasikan ke Bu Tika. Terima Kasih

DIVERSIFIKASI PANGAN BAGIAN 1

 Silahkan anak-anakku untuk memahami materi berikut !



DIVERSIFIKASI PANGAN 

    Apa yang diperlukan agar kita dapat hidup? Makan, tentu saja! Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Keluarga di rumah selalu menyiapkan makanan yang cukup untuk kita makan sehari-hari. Begitu pula negara kita berusaha memenuhi kebutuhan pangan yang cukup, aman dan bergizi bagi seluruh penduduk. Makanan kita berasal dari berbagai bahan pangan. 

    Indonesia terkenal sebagai negara agraris yang memiliki kekayaan sumber daya pertanian dan peternakan yang menghasilkan beraneka produk pertanian dan peternakan. Sumber daya pertanian dan peternakan dalam tatanan pembangunan nasional memegang peranan penting dalam menyediakan pangan bagi seluruh penduduk. Kita sebagai warga Indonesia patut mensyukuri karunia Tuhan kepada tanah air kita. Buah, sayuran, dan berbagai hewan ternak, maupun ikan mudah berkembang di tanah air kita, Indonesia. Dengan mensyukuri nikmat Tuhan, maka kita sebagai manusia yang menikmati karunia Tuhan hendaknya memelihara dan  melestarikan sumber daya yang dimiliki, dan tentunya nanti Tuhan akan memberikan karunia yang berlimpah pula. Selain itu, sektor pertanian dan peternakan juga merupakan sektor andalan penyumbang devisa negara selain dari sektor non migas. Salah satunya caranya dengan melakukan berbagai teknik pengolahan dan pengawetan pangan. Dengan pengawetan berbagai pangan sebagai usaha diversifikasi (penganekaragaman) pangan untuk menjadi lebih dari satu jenis barang yang
dikonsumsi sangat diperlukan dalam rangka mencukupi kebutuhan pangan masyarakat. Dalam mengolah berbagai pangan diversifikasi hendaknya memperhatikan keamanan bahan pangan untuk dikonsumsi. 

    Aturan tentang keamanan pangan terdapat pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 yang menyatakan bahwa kualitas pangan yang dikonsumsi harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya adalah aman, bergizi, bermutu, dan dapat terjangkau oleh daya beli masyarakat. Oleh karena itu, industri pangan adalah salah satu faktor penentu beredarnya pangan yang memenuhi standar mutu dan keamanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Keamanan pangan bukan hanya merupakan isu dunia tapi juga menyangkut kepedulian individu. Jaminan akan keamanan pangan merupakan hak asasi konsumen. Pangan termasuk kebutuhan dasar terpenting dan sangat esensial dalam kehidupan manusia. Walaupun pangan itu menarik, nikmat, tinggi gizinya jika tidak aman dikonsumsi, praktis tidak ada nilainya sama sekali. Bagaimana apakah Anda sudah dapat memahami tentang diversifikasi pangan? 

Agar pemahaman Anda lebih dalam, lanjutkan untuk membaca wacana dibawah ini !


Wacana:

Sebuah Pengantar tentang Diversifikasi Pangan


Sumber : https://www.kompasiana.com/sebuah-pengantar-untuk-anda-tentang-diversifikasi-pangan

        Pada masa Orde Baru, pemerintah mencanangkan kebijakan swasembada beras. Saat itu yang menjadi komoditi utama bahan pokok di Indonesia adalah beras. Saat itu yang menjadi komoditi utama bahan pokok di Indonesia adalah beras, sehingga lahan pertanian di Indonesia lebih banyak dijadikan sebagai sawah untuk meningkatkan produktivitas beras sedangkan untuk bahan pangan yang lain ditanam pada lahan pertanian yang tersisa. Swasembada beras tersebut hanya berlangsung sementara, karena saat itu terjadi wabah hama yang menyerang lahan pertanian dan menyebabkan Indonesia kehilangan sejumlah komoditi beras yang akan dipanen, sehinga Indonesia mengalami krisis beras. 

        Padahal beras merupakan bahan pokok utama di Indonesia. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah akhirnya mengimpor beras dari negara lain. Sejak saat itu, Indonesia sebagian besar mengimpor beras untuk mencukupi kebutuhan bahan pokok masyarakat Indonesia. Tingkat ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap konsumsi beras sebagai makanan pokok sangat mengkhawatirkan. Beras telah menjadi pemasok utama karbohidrat bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Persepsi masyarakat bahwa jika belum mengkonsumsi beras maka dikatakan belum makan meskipun perut diisi dengan makanan lain. Hal ini yang mengakibatkan tingkat konsumsi beras perkapita penduduk Indonesia meningkat tiap tahunnya. Tingginya tingkat konsumsi beras di Indonesia menyebabkan munculnya permasalahan ekonomi lain di Indonesia. Adanya impor beras tidak benar-benar menguntungkan bagi masyarakat Indonesia. Meskipun demikian, Indonesia masih tetap mengalami krisis beras pada musim-musim tertentu. Berdasarkan masalah tersebut, Indonesia memerlukan diversifikasi pangan sebagai pengganti beras agar masyarakat Indonesia tidak lagi bergantung pada beras dan menjadikannya sebagai komoditi utama bahan pokok sehingga mampu meminimalisasi konsumsi beras di Indonesia. Presiden pertama Republik Indonesia, dalam peletakkan batu pertama pembangunan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), 27 April 1952. Dalam pidatonya itu, menegaskan bahwa persoalan pangan adalah persoalan hidup mati bangsa Indonesia. 

         Bung Karno  juga mengungkapkan tentang keberagaman makan rakyat Indonesia, dengan memakai angka-angka tahun 1940. “Dalam tahun itu, jumlah makanan di Indonesia kalau dibagi rata rakyatnya, menjadi 86 kg beras, 38 kg jagung, 162 kg ubi kayu, dan 30 kg ubi jalar per orang”. Bilamana diperhitungkan dalam nilai kalori dengan jumlah penduduk saat itu (75 juta jiwa) maka jumlah kalori yang dimakan per orang sebesar 1.712 kilokalori (kkal). (Djuwardi, 2010) Pengertian Diversifikasi Pangan Pada dasarnya diversifikasi pangan mencakup tiga lingkup pengertian yang saling berkaitan, yaitu diversifikasi konsumsi pangan, diversifikasi ketersediaan pangan, dan diversifikasi produksi pangan. Dalam Keppres No. 68 tentang Ketahanan Pangan pasal 9 disebutkan bahwa diversifikasi pangan diselenggarakan untuk meningkatkan ketahanan pangan dengan memperhatikan sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal (Hanafie, 2010).

            Diversifikasi pangan diartikan sebagai pengurangan konsumsi beras yang dikompensasi oleh penambahan konsumsi bahan pangan non-beras diiringi dengan ditambahnya makanan pendamping. Diversifikasi konsumsi juga dapat didefinisikan sebagai jumlah jenis makanan yang dikonsumsi, sehingga semakin banyak jenis makanan yang dikonsumsi akan semakin beranekaragam. Dimensi diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya terbatas pada pangan pokok tetapi juga pangan jenis lainnya, karena konteks diversifikasi tersebut adalah meningkatkan mutu gizi masyarakat secara kualitas dan kuantitas, sebagai usaha untuk meningkatkan kulitas sumberdaya manusia. Pengaruh Diversifikasi Pangan Terhadap Kebutuhan Pangan di Indonesia Kebijakan swasembada beras pada masa lalu telah menyebabkan terjadinya perubahan dan pergeseran kebiasaan pangan (food habit) sebagian besar penduduk Indonesia yang cenderung bergantung pada beras. Kondisi ketergantungan pada beras ini telah menyebabkan memudarnya atau bahkan hilangnya kondisi pluralisme dalam food habit dan pluralisme dalam diversifikasi pangan pokok. Tujuan diversifikasi konsumsi pangan lebih ditekankan sebagai usaha untuk menurunkan tingkat konsumsi beras, dan diversifikasi konsumsi pangan hanya diartikan pada penganekaragaman pangan pokok, tidak pada keanekaragaman pangan secara keseluruhan.

            Indonesia dirasa mulai perlu menggeser bahan baku makanan sehari-hari demi ketahanan jangka panjang. Saat ini lahan pertanian di Indonesia semakin sempit akibat dari ledakan  jumlah penduduk, dengan demikian bertambahnya jumlah penduduk mengakibatkan konsumsi beras akan bertambah pula. Kewalahan menghadapi situasi ini, pemerintah mengambil kebijakan untuk mengimpor beras. Impor beras dalam jumlah besar saat ini mengakibatkan inflasi pada perekonomian Indonesia dan nilai kurs mata uang rupiah akan dolar semakin melemah. Sehingga yang diperlukan Indonesia saat ini adalah mengurangi atau bahkan menghapus kebijakan impor beras demi peningkatan perekonomian Indonesia. Yakni salah satunya dengan mengambil kebijakan diversifikasi pangan untuk meminimalisasi konsumsi beras.

Sumber Pustaka : Harris Iskandar, 2017. Modul 3. Lezat dan Aman Untuk Dikonsumsi : Penganekaragaman Pangan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.





NB: Untuk pertemuan ini tidak ada tugas jadi silahkan pahami saja wacanamya, tugasnya akan saya sampaikan minggu depan . Terima kasih

Pegolahan Makanan Khas Daerah dari Bahan Pangan Nabati

 

Selamat Datang kembali anak-anakku semuanya di kelas pembelajaran PKWU 😊. 

BTW .... sudah menonton youtube nya belum ? 


Bagi yang belum, klik dan tonton yah ! karena di dalam video ada pertanyaan untuk kalian kerjakan dalam kolom Google Classroom yang disediakan. Ingat, langsung dikerjakan ya ! Kita belajar disiplin yuk ! 2021 harus berbeda dan lebih baik lagi !

A. Pengertian Bahan Pangan

Bahan pangan adalah bahan yang memungkinkan manusia tumbuh dan mampu memelihara tubuhnya serta berkembang biak. Manusia memerlukan bahan pangan untuk menunjang kelangsungan kehidupannya, misalnya untuk membangun sel-sel tubuh dan menjaga agar tubuh sehat dan berfungsi sebagaimana mestinya ( Winarno, 1993 ). Secara garis besar bahan pangan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu bahan pangan asal tumbuhan ( nabati) dan bahan pangan asal hewan ( hewani). Bahan pangan digunakan oleh industri pengolahan pangan untuk menghasilkan suatu produk yang dapat dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari.

Bahan Pangan Nabati 

Bahan pangan nabati adalah bahan pangan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Pemilihan bahan dasar yang baik mempengaruhi kualitas dari produk makanan yang berasal dari bahan baku tumbuhan ( nabati ) Pengelompokkan komoditas hasil pertanian (khususnya bahan pangan nabati ) dapat dilakukan atas dasar pertimbangan beberapa hal, yaitu karakteristik agronomis, fisiologis dan gizi.

Yuk, simak dengan baik ya !

Karakteristik Agronomis 

Hal ini merupakan pengelompokkan haisl pertanian berdasarkan keluarga/famili yang sama. Namun, tetap perlu memperhatikan aspek lain, seperti bentuk, wujud, dan bagian dari suatu tanaman/hewan yang dapat dimanfaatkan. Penelusuran kelompok pangan yang dipilah berdasarkan nomenklatur biologi ( divisi, kelas, ordo, famili, genus, species dan varietas ). Berdasarkan fakta tersebut hasil pertanian tumbuhan pangan/hewan dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok :

a. Kelompok Serelia 

dicirikan oleh kesamaan keluarga/famili, yaitu kelompok tanaman padi-padian atau rumput -rumputan  (Gramineae). Bentuk produknya berupa bijian ( butiran) dan bagian keluar dari kacang tidak dapat dikonsumsi karena kulit biji yang cukup keras. Serelia yang biasa dikonsumsi manusia adalah padi, jagung dan gandum. Adapun contoh lainnya dipakai sebagai pakan burung, yaitu cantel, jali dan jawawut.

b. Kelompok kacang-kacangan 

memiliki ciri kulit berbintil akar dan berperan dalam fiksasi Nitrogen dari udara dan dalam tanah untuk pembentukan buah. Contohnya bentuk produk berupa biji yaitu kacang bogor, kacang kedelai, kacang merah, dan kacang hijau.

c. Kelompok umbi-umbian

termasuk produk yang berasal dari akar. Jika dilihat secara agronomis, tidak hanya tergolong satu famili/keluarga, tetapi memiliki beberapa jenis seperti ubi jalar, singkong, garut/irut dan uwi. Selain itu juga ada beberapa pengelompokkan lainnya yaitu, temulawak, jahe, kencur, lengkuas, dan sejenisnya. Komoditas tersebut dapat dikategorikan sebagai kelompok tanaman obat, kelompok sayuran atau kelompok umbi umbian.

d. Kelompok sayuran

pemanfaatan bagian sayur terdapat pada bagian buah, daun,, dan batang/umbi. Sayuran dapat disimpan pada suhu yang rendah. Hal in merupakan cara agar penurunan mutu sayur dapat diperlambat. 

e. Kelompok buah-buahan

Pada umumnya, buah-buahan dikonsumsi dalam bentuk segar (masak). Terdapat kelompok buah yang dapat langsung dimakan namun juga ada yang harus melalui proses pemeraman, seperti pisang dan sirsak. Selain itu juga ada beberapa kelompok buah yang harus melalui proses memasak baik digoreng maupun direbus, seperti buah labu. Selain itu, terdapat buah yang dapat langsung dimakan dalam bentuk segar yaitu jambu, mangga, pisang dll. 

Sama halnya dengan sayuran,, penyimpanan buah juga harus diperhatikan.  Buah dapat disimpan di dalam kulkas/freezer. Hal ini dapar dilakukan untuk meminimalisir penurunan mutu dengan cepat. 

Apabila buah tidak disimpan dengan baik, buah akan cepat mengalami penurunan mutu, seperti buah akan cepat berubah warna dan cepat busuk. 


Oke, untuk pertemuan ini cukup sekian, jenis karakteristik kita bahas di minggu selanjutnya ya ! 😊

Silahkan, kalian jawab pertanyaan yang ada dalam video, dalam kolom  Google Classroom yang sudah disediakan. Sampai ketemu minggu depan ! Jika ada pertanyaan silahkan langsung saja dalam komentar dibawah. Terima kasih




PEMBAHASAN SOAL LATIHAN PAS PKWU KELAS X

 1. Sebuah rencana yang telah disusun secara sistematis masih mungkin untuk mengalami kegagalan dalam pelaksanaannya. Faktor-faktor penyebabnya antara lain sebagai berikut, kecuali ….

A. rencana yang dibuat kurang terperinci dalam memaparkan tujuan dan sasaran

B. kurangnya analisis situasi yang memadai

C. tujuan dan sasaran yang tidak realistis

D. konsep pembiayaan yang meragukan

E. kurangnya antisipasi dalam menghadapi persaingan dan perubahan

Jawaban D

2. Ketika merancang design thinking untuk produk konversi energi, kamu mengetahui bahwa prototipe yang dibuat tidak berhasil memecahkan masalah yang ada di masyarakat. Langkah apa yang harus kamu lakukan sebagai pelaku bisnis untuk mengatasi masalah tersebut …

A. Menentukan ulang masalah yang ingin dicarikan solusinya

B. Memasarkan produk

C. Memproduksi produk jadi

D. Membuat model bisnis

E. Mencari investor

Jawaban A

3. Dalam berwirausaha kerap kita menemui kegagalan (lebih banyak) dan keberhasilan, sikap apa yang dapat kita tunjukkan sebagai manusia yang beragama, bertuhan jika dalam berwirausaha menemui banyak kegagalan …

A. Frustasi meratapi nasib

B. Lebih baik menyendiri dan mendaki gunung untuk mencari inspirasi baru

C. Mengadu kepada teman dimedia jejaring sosial

D. Tetap berusaha dan menjadi kuat, berani untuk menghalalkan segala cara

E. Tetap berusaha mencari peluang dan banyak belajar dari pengalaman disertai dengan selalu berdo’a

Jawaban E

4. Sikap mental dan jiwa yang selalu aktif dalam berusaha meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya, merupakan pengertian dari …

A. Guru wirausaha

B. Wirausaha

C. Kewirausahaan

D. Pemimpin

E. Dokter

Jawaban B

5. Jiwa kewirausahaan akan muncul apabila …

A. Seorang berani mengembangkan usaha-usaha dan ide barunya

B. Seorang tidak berani untuk mengambil resikonya

C. Seorang selalu menunda pekerjaan

D. Seorang tidak tertarik dengan usaha

E. Seorang tertarik dengan usaha.

Jawaban A

6. Seorang wirausahawan menghindari risiko yang rendah karena …

A. Ada tantangan

B. Tidak ada tantangan

C. Karena tidak ingin berhasil

D. Mendekati risiko yang tinggi

E. Karena ingin berhasil

Jawaban B

7. Berorientasi pada tugas dan hasil merupakan ciri-ciri dari …

A. Usaha

B. Pemimpin

C. Kewirausahaan

D. Seniman

E. Pengajar

Jawaban C

8. Wirausaha yang bertarung dengan waktu merupakan salah satu karakter dari …

A. Action oriented

B. Berpikir simple

C. Peluang terbaik

D. Peluang dengan disiplin tinggi

E. Focus dari eksekusi

Jawaban C

9. Seorang wirausahawan menemukan dan mempelajari pengetahuan baru. Hal tersebut merupakan salah satu cara dari …

A. Nilai tambah dari kewirausahaan

B. Ciri-ciri kewirausahaan

C. Karakteristik kewirausahaan

D. Pengertian kewirausahaan

E. Tujuan kewirausahaan

Jawaban : B

10. Seorang pengusaha mendirikan bisnis kerajinan sandal batik. Harga sandal per buah adalah Rp30.000. Untuk biaya variabel per tas rata-rata Rp20.000 dan rata-rata biaya tetap tahunan Rp2.000.000. Berapa jumlah sandal yang harus diproduksi agar mencapai BEP?

Rumus umum Menghitung BEP unit :

BEP Unit = (Biaya Tetap) / (Harga per unit – Biaya Variabel per Unit) atau

Q = FC / (P - VC)

Diketahui pada soal Biaya tetap (FC) = Rp. 2.000.000 ; Biaya variabel/unit (VC) = Rp 20.000; harga (P) = Rp 30.000, maka

Q = FC / (P - VC)

Q = 2.000.000 / (30.000 - 20.000)

Q = 2.000.000 / 10.000

Q = 200 unit

Jawaban : A